Selasa, 19 April 2011

Budaya antri dan berbagi dalam situasi darurat

Sekitar sebulan lalu atau tepatnya 11 Maret 2011, beberapa daerah di Jepang dilanda gempa
besar disertai tsunami yang berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Ribuan orang
menjadi korban dan ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.
Jepang memang dilanda bencana alam tetapi ada hal-hal positif yang tetap dipertahankan dan
membuat kagum orang-orang yang melihatnya. Berikut adalah sekelumit cerita tentang budaya
antri dan berbagi yang ditunjukkan masyarakat Jepang meski dalam kondisi darurat.
Antri dan tidak egois
Sikap dan perilaku orang-orang Jepang ketika gempa besar Tohoku terjadi perlu diacungi
jempol. Meskipun penulis tinggal di Tokyo yang cukup jauh dari daerah Tohoku yang terkena
dampak paling besar dari gempa tersebut tetapi efek gempa juga terasa. Terlepas dari tidak
adanya kerusakan infrastruktur dan bangunan di Tokyo, gangguan jaringan komunikasi dan
transportasi langsung terasa di Tokyo sesaat sesudah gempa.
Imbas pertama yang terasa adalah dihentikannya seluruh jaringan kereta listrik dan kereta
bawah tanah sesaat setelah gempa. Untuk wilayah Tokyo di mana jutaan orang sangat
tergantung pada kereta, hal ini sangat mengganggu. Calon penumpang menumpuk di sekitar
stasiun hingga memenuhi ruas-ruas jalan sekitarnya. Tidak hanya di stasiun, antrian panjang
juga terlihat di sekitar tempat menunggu taksi dan bis. Sore itu dingin tetapi semua orang tetap
rela mengantri dengan teratur bahkan hingga berjam-jam berikutnya. Tidak sedikit orang yang
akhirnya baru bisa pulang setelah lima jam mengantri di halte bis yang penuh sesak.
Tidak sedikit orang yang semula mengantri kemudian memilih berjalan kaki untuk mencapai
rumah masing-masing. Mereka berjalan kaki hingga beberapa kilometer ataupun berjam-jam
lamanya tetapi tetap tampak tenang dan taat pada peraturan lalu lintas. Orang yang berduyunduyun
berjalan kaki tidak sampai melampaui batas trotoar dan tetap berhati-hati meski lampu
pengatur lalu lintas tidak berfungsi. Begitu pula dengan para pengemudi mobil dan motor yang
juga harus rela antri lebih lama karena beberapa ruas jalan macet. Mekipun macet, tidak ada
yang saling serobot ataupun membunyikan klakson dengan tidak sabaran meski deretan
kendaraan mengular begitu panjang.
Antrian panjang semacam itu juga terlihat di tempat pengungsian seperti sering ditayangkan di
televisi atau dimuat di media cetak dan elektronik. Para pengungsi pun antri untuk mendapat

ransum dan pakaian layak pakai yang tidak seberapa jumlahnya. Para pengendara kendaraan
bermotor pun rela antri untuk memperoleh bahan bakar. Bahkan ketika bahan bakar tersebut
dibatasi dan sulit diperoleh, mereka tidak membuat onar dengan menjarah pom bensin yang
ada. Ada sebuah cerita di mana ada orang yang meninggalkan catatan berisi permintaan maaf
telah mengambil bensin tanpa izin dan kesiapan dihubungi jika pemilik aslinya menagih hak
miliknya sesudahnya. Begitu pula ketika orang-orang harus antri di supermarket demi bahan
makanan yang jumlahnya terbatas, mereka tetap sabar menerima keterbatasan tersebut dan
tidak menjarah cadangan barang yang ada.
Berbagi dan berhemat
Masalah-masalah lain pun turut bermunculan pasca gempa Tohoku, mulai dari masalah klasik
di pengungsian hingga bahaya radiasi dari PLTN Fukushima yang bermasalah. Di sini, penulis
lebih ingin menyoroti bagaimana masyarakat Jepang menghadapi hal tersebut. Rusaknya
infrastruktur di daerah Tohoku memang menghambat pasokan ataupun distribusi barang
kebutuhan masyarakat di daerah sekitarnya. Apalagi PLTN Fukushima juga bermasalah yang
berakibat pada penurunan pasokan energi untuk daerah Tohoku dan Kanto, termasuk Tokyo
tentunya.
Sejak terjadi kelangkaan barang dan pasokan listrik, cukup banyak iklan layanan masyarakat
ataupun leaflet yang mengajak berbagi demi para pengungsi di Tohoku. Di internet bisa
ditemukan beragam gambar yang mengajak orang untuk tidak menimbun barang karena panik
ketika beberapa barang jadi langka. Misalnya saja gambar yang menunjukkan bahwa kurang
lebih 12 rol tissue toilet bisa untuk 1.000 orang, 1 tabung gas kecil bisa untuk memasak
makanan 10 orang, 1 liter bensin bisa untuk ambulance yang mengangkut 4 orang yang terluka.
Jika orang-orang tidak menimbun barang-barang tersebut untuk kebutuhan pribadinya maka
akan makin banyak pengungsi yang tertolong karena kebutuhan dasar tersebut bisa diperoleh
dengan mudah.
Konsekuensi dari terbatasnya pasokan listrik adalah adanya jadwal pemadaman listrik bergilir
di beberapa prefektur, terutama Tokyo, Saitama, Chiba dan Ibaraki. Toko-toko yang biasanya
tutup sekitar jam 9 atau 10 malam, jadi tutup jam 6 petang. Shibuya yang biasa hingar-bingar
dengan lampu dan beberapa TV raksasa pun sedikit jadi suram karena semua itu dimatikan.
Lampu-lampu di tempat umum pun tidak banyak yang dinyalakan. Kereta-kereta listrik juga
sempat dikurangi operasionalnya demi penghematan. Tidak hanya di ranah publik, dalam
aktifitas rumah tangga pun banyak keluarga yang melakukan penghematan semampunya.
Semangat untuk berhemat dan berbagi bisa terbaca dalam pesan-pesan iklan ataupun diskusi
di TV. Misalnya:
Acara di beberapa TV pun menyajikan hal-hal yang positif mulai dari liputan tentang
pengungsian hingga tanya jawab tentang radiasi. Ada acara di NHK yang menyerukan ajakan
berbagi dan berhemat dengan memberikan contoh kongkrit yang dilakukan oleh masyarakat
seperti sukarelawan sebuah LSM yang membuat program untuk menghubungkan orang-orang
yang terpisah atau mencari keluarganya di pengungsian, gerakan matikan alat listrik yang tidak
perlu di banyak keluarga, dan sebagainya.
Masyarakat Jepang memang sudah sangat akrab dengan gempa sehingga mental kuat mereka
pun telah siap untuk menghadapi kondisi terburuk sekalipun. Terlepas dari semua itu kemampuan mereka untuk "gaman" yang bisa diartikan sabar sangat mempengaruhi
ketahanan mereka untuk tetap antri dan rela berbagi. Mereka gaman dengan menahan diri
tidak mengeluh meski berada dalam kondisi tidak nyaman. Mereka gaman dengan tidak
melakukan hal-hal negatif seperti perusakan atau penjarahan meski semua hal jadi terbatas
dan sempat tidak teratur.
Sebuah pelajaran penting juga tersirat dalam percakapan penulis dengan orang Jepang
beberapa hari pasca gempa, "Karena kami sama-sama jatuh saat ini, makanya harus bisa
gaman. Kalau yang lain semua duduk lalu kita berdiri sendirian, rasanya malu dan tidak
nyaman bahkan akan sangat terasa kehilangan dan kesusahan akibat bencana alam ini. Akan
tetapi, jika sama-sama duduk dan saling membantu untuk bangkit, pasti terasa lebih ringan
dan cepat terlalui."
Penulis
Isti Winayu, mahasiswa S2 bidang ilmu hubungan internasional di Universitas Waseda, Jepang.
Kontak: loving_himawari(at)yahoo(dot)com


1 komentar:

  1. 1st...
    tukeran link ya...
    :)

    http://sharemyeyes.blogspot.com/

    BalasHapus